Pernah
kau menulis sebuah cerita di beberapa tahun lalu dan kau berharap semua
itu akan terjadi di waktu ini atau di masa nanti? Pernah bagimu
merasakan kerinduan yang amat mendalam pada seseorang, yang untuknya kau
rela melepaskan semua yang saat ini sudah kau raih? Pernah untukmu
tersenyum dalam tidur ketika mendambakannya hadir dalam hidupmu walau
hanya sesaat? Aku pernah dan tak pernah tahu bahwa itu semua akan
terjadi di saat aku berdiri dalam keyakinan melepas keraguan selama ini
untuk melangkah memperhatikannya...
"Memperhatikannya"
Waktu
itu malam penuh bintang dan langit tak sama seperti saat sore
menghilang. Aku berjalan lunglai setelah menghabiskan minumanku sore
ini. Pulang ke rumah dan melakukan rutinitas biasa tanpa ada sesuatu
istimewa yang akan terjadi. Aku terdiam menunggu Handphoneku berdering,
sms atau telepon dari seseorang yang kini hadir dalam hidupku. Berharap
dia berkata, "aku merindukanmu seperti aku merindukan jiwaku."
Gadis
ini adalah sesuatu banget bagiku. Dia pernah hadir dalam hidupku
menjadi sebuah kisah kasih tak sampai. Berujung dengan sebuah
kuputus-asaan terbesar yang pernah aku peroleh dalam hidup ini. Aku
tidak tahu bagaimana ini dimulai tapi ini terjadi begitu saja tanpa aku
sadari akan terjadi. Ya, dia datang! Entah Tuhan mengirimnya untuk
datang padaku atau ini akhir dari pencarianku? Akhir dari semua
pertanyaanku tentang cintaku. Ketika itu aku sedang berjuang untuk
melepas diri dari sebuah ikatan yang menjadikanku mendua pada diriku dan
Tuhan. Diriku yang tidak ingin lagi jatuh dalam kesalahan terindah,
dosa termanis yang Tuhan pun marah padaku. Aku meninggalkannya dengan
luka di hati, berharap Tuhan datang dan mengobati luka ini membuatku
kuat dan berdiri dengan tenang. Ya saat itu dia hadir, mempesona ketika
melewatiku. Tersenyum dan membuat hatiku berkata, "bukankah dia yang
selama ini kau nanti?"
Aku menunggunya malam ini.
Menjemputnya dengan hati berdebar dan jantung yang berdetak. Oh Tuhan,
kuatkan hatiku. Lagu Sheila On 7 berjudul "Hari Bersamanya" menjadi
sebuah lagu yang memenuhi isi kepalaku saat menantinya. Hmm, bagaimana
dia hari ini? Adakah senyumnya untukku? Aku menunggunya dengan cemas dan
ya itu tadi, jantungku berdegup kencang seperti letusan Gunung Merapi
menghangatkan seluruh lapisan hatiku.
Beberapa tahun
sebelumnya, rasa ini pun ku nikmati. Saat dia datang ke rumahku dengan
wajah tertunduk lesu. Tanpa ada senyum, tanpa ada sapa, hanya diam dan
diam. Membuatku penasaran namun takjub melihatnya. Dengan baju berkerah
merah muda dan jeans biru, dia duduk bersama yang lain, dan aku mencuri
kesempatan untuk mengabadikan dirinya dalam sebuah potret kamera Kodak.
Aku belum punya Handphone Digital saat itu, kenangan yang lucu.
Sayangnya, dia selalu memalingkan wajahnya ke arah yang lain saat aku
meng-klik kamera pertamaku itu. Ehm... Membuatku bertanya, "begitu
sulitkah untukku membuka pintu hatimu?"
Aku masih menunggu
dan dia belum tiba, ruang dalam Jeremiah sudah dingin karena AC namun
tak mampu mendinginkan hatiku yang mulai terbakar sebuah rasa yang
banyak orang menamakannya rindu. Sampai Agnes Monica pun menyanyikan
Rindu dengan getar rindu yang benar-benar rindu. Aku terus menatap ke
luar jendela, dimana kamu? Sudah sampai mana? Pertanyaan itu menjadi
aneka rasa dalam hidangan menu malamku menunggu kamu. Ah aku rindu.
Aku
telah jatuh dalam pelukan beberapa wanita, dari yang membuatku terjatuh
dalam perbedaan pertama kali. Mencintanya begitu lama dan mengeraskan
hatiku tuk berlabuh ke hati yang lain. Dia yang sederhana dan membuatku
luluh. Aku telah banyak menghabiskan waktu untuk meirndu yang ini dan
yang itu. Berganti waktu dan berganti hati. Dan mungkni Gadis ini pun
telah berpindah hati dari satu pria ke pria lain. Namun entah kenapa apa
karena arah yang dia tuju akan berakhir denganku, kenapa aku rasa
begitu. Hingga aku relakan cinta yang menggoda di depan mata dan dia
tinggalkan cinta yang mencoba merasuk hatinya. Aku mendapatkanmu setelah
lama menunggu. Aku tak sempurna, tapi bagiku kau hadir untuk
melengkapiku.
Saat itu aku melihatmu, bersama sahabatmu
dan kau sedang mencoba menghubungi seseorang. Entah dorongan apa di
hatiku yang bergegas turun dari Jeremiah, dan berjalan, boleh dibilang
aku berlari kecil melewati makian para Pengendara Motor yang kuhalangi
jalannya. Tak perduli kalian, aku sedang menuju Gadis itu,
memperhatikannya.
Kau tersenyum saat melihatku. Aku tak
tahu harus bilang apa hanya mampu membalas senyumanmu. Aku dan Gadis itu
di dalam Jeremiah, dia bercerita tentang harinya. Aku mendengarkannya,
memperhatikannya, dan semakin lama aku semakin mencintainya. Rasa yang
dulu hilang kini mulai mekar kembali. Aku menemukannya, Tuhan!
"Pengagum Senyummu"
Cerita pagi yang tak akan ku lupa
Tertulis biru ramah di lembaran hatiku
Tentang satu senyuman terindah
Sejenak hariku memikirkannya
Terlukis putih paras dalam gugusan bintang
Terus bertanya, siapa gerangan dia?
Tersentak aku larut dalam keheningan kata
Saat ku tahu hati pemilik senyum itu
Kamu, masih belia, dengan sejuta asa
Andai kamu tahu bahwasannya
Aku merasa bahagia mengenalmu
Kuakui senyummu, t'lah perindah hariku
Mewarnai derap jejak langkahku
Selimut lelapku dari mimpi
Aku adalah Pengagum Senyummu
Ku terjemahkan perubahan rasa hati ini
Ku temukan jawabnya, karena senyummu
Aku adalah Pengagum Senyummu
Yang selalu ingin menatapmu tersenyum
Sampai kamu dewasa, Pengagum Senyummu
Ku tulis puisi ini saat aku jatuh cinta, Sabtu, 22 Juli 2006, Pukul 23.15 WIB.
(bersambung...)
-YYAE-
1 Desember 2011